Monthly Archives: October 2020

IHSG Berpeluang Naik, Saran Saham Pilihan Hari Ini

Indeks Harga Saham Gabungan kini masih tampak prima dan bahkan menguat hingga 0.7% di posisi 5.132,57 pada hari Selasa 13 Oktober 2020 kemarin. Padahal sebelumnya di sesi pertama sempat melemah.

Indeks Harga Saham Gabungan sempat melemah dikarenakan para investor yang khawatir mengenai demonstrasi besar-besaran perihal mereka yang menolak UU Cipta Kerja.

Hal positif yang lain berasal dari rencana merger yang akan dilakukan oleh BUMN Syariah, yaitu PT BRI Syariah Tbk, PT BNI Syariah, dan PT Bank Syariah Mandiri. Penguatan Indeks di bursa Amerika Serikat dan mayoritas bursa regional juga menjadi hal lain pada sentimen positif yang ada di pasar.

Di hari ini, Rabu 14 Oktober 2020, IHSG diprediksi akan semakin menguat dengan support pada level 5.090 serta resistance 5.176. Ini berasal dari perundingan stimulus fiskal lanjutan yang ada di Amerika Serikat, demonstrasi yang ternyata tidak sebesar yang diperkirakan, juga musim laporan keuangan.

Meski demikian IHSG masih rentan terkoreksi, karena di dalam kondisi ini pelaku pasar bisa mencermati mengenai saham-saham serta pergerakan teknikalnya yang menarik, seperti misalnya PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBR!), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Adaro Energy Tbk (ADRO), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA).

Nah, sekarang mari kita lihat dari saham-saham mana saja yang baik untuk kita beli pada hari ini.  Laju bursa saham domestik sendiri kemarin di tanggal 13 Oktober 2020 ditutup menguat pada level 0.77% pada level 5.132,57 poin. Data perdagangan mencatat kalau nilai transaksi yang terjadi kemarin mencapai Rp8,91 triliun dengan volume sebesar 13,55 miliar unit saham serta frekuensi 772,913 kali.

Para investor asing melakukan jual bersih sebesar Rp55,79 miliar dan beberapa saham yang ditransaksikan ada BRIS, BBRI, BBCA, TLKM.

Rekomendasi Pilihan Saham

1.MNC Sekuritas

Yang pertama ada MNC Sekuritas, di mana kemarin terkena Figo retracement 61.8%, penguatan IHSG akan terbatas dan MNC Sekuritas memperkirakan kalau IHSG akan menguji area 5.140-5.160. Meski demikian, IHSH termasuk rentan untuk terkoreksi pada jangka pendek.

Saham pilihan :

ASII
AKRA
PGAS
BBCA

2. Reliance Sekuritas (Stimulusnya Belum Pasti)

Di tengah spekulasi pasar perihal buntunya stimulus ekonomi lanjutan terjadi koreksi Bursa Saham AS. Di indeks S&P 500, saham perbankan memimpin pelemahan, dengan Citigroup Inca dan JPMorgan Chace. Investor khawatir mengenai kuartal ketiga yang hanya memberikan isyarat jeda kesakitan dari pinjaman yang semakin buruk.

Sedangkan untuk Eli Lilly&Co. Perusahaan farmasi itu tumbang setelah tadinya menunda pelaksanaan uji antibodi yang sudah disponsori pemerintah dikarenakan masalah keamanan tepat beberapa jam setelah Johnson&Johnson melakukan penghentian uji coba vaksin Covid-19.

Saham Pilihan

ITMG
IMAS
SMB
PGAS

3. Binaartha Sekuritas

Binaartha Sekuritas masih melanjutkan penguatan, di mana jika dilihat dari indikator MACD sudah membentuk pola Golden Cross yang berada pad area negatif. Sedangkan ditunjukkannya sinyal positif dan Stohastic dan RSI.

Kalau dilihat dari sisi lainnya, ada beberapa pola upward bar yang menandakan kalau ada potensi terjadi penguatan lanjutan, jadi bisa masuk ke resistance ke depannya.

Saham Pilihan

ISAT
ICBP
MEDC

INCO

Nah, itulah berita mengenai saham hari ini dan beberapa saham pilihan di hari ini. Semoga informasi ini bisa bermanfaat untuk Anda dan jangan lupa untuk menantikan berita mengenai saham dari kami lainnya.

Kenapa IHSG Susah Tembus 5000?

Semenjak disahkannya Omnibus Law Undang-undang Cipta kerja, keadaan di Indonesia terus memanas. Kondisi ini membuat banyak buruh yang melakukan aksi demo di berbagai tempat di Indonesia.

Banyak poin-poin yang menjadi perhatian yang memicu aksi para buruh yang dianggap akan membuat para buruh merasa dirugikan.

Mereka bahkan melakukan aksi mogok kerja secara nasional. Hingga hari ini banyak aspek yang berdampak dari disahkannya omnimbus law ini, salah satunya adalah IHSG.

Salah satu tujuan disahkannya Omnibus Law adalah untuk meningkatkan investor, tetapi nyatanya hingga gari ini Omnibus Law masih belum memberikan dampak yang signifikan untuk pasar saham.

Ini karena para investor masih belum memasukkan faktor Omnibus Law yang baru disahkan pada tanggal 5 oktober 2020 lalu sebagai katalis positif dalam jangka panjang untuk bursa saham domestik atau dalam negeri.

Hingga hari ini, masih dapat dilihat pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan yang masih berada pada level 4.900 – 5.000. Sedangkan di perdagangan yang ada di hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan sempat berada di level bawah 4.974 poin.

Di sesi satu pada tanggal 7 Oktober 2020 di hari rabu ini, data perdagangan mencatat kalau Indeks Harga Saham Gabungan tutup saat minus 0.63% pada level Rp4.967. Padahal sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan sempat untuk menyentuh angka 5.014 di rentang perdagangan sejak pagi hari.

Nilai transaksi yang tercatat mencapai Rp13.73 Triliun karena adanya transaksi yang nego, sebanyak 146 saham naik, 235 turun, dan 167 tetap. Sepertinya Indeks Harga Saham Gabungan tertinggi masih berada pada poin 6.325, tepatnya ketika Indonesia belum memiliki kasus Covid di awal tahun ini.

Hari ini Asing keluar Rp346,95 miliar pada pasar reguler serta ditambahkan dengan adanya nego dan pasar tunai. Ini membuat net sell Asing mencapai angka Rp1.94 triliun pada sesi 1. Year to Date ASing keluar Rp 61 Triliun.

Janson Nasrial, Senior Vice President Research Kanaka Hita Solvera berpendapat meskipun Omnibus Law mendapatkan banyak penolakan dari berbagai pihak, nyatanya ini dianggap sebagai sebuah terobosan pada 20 tahun terakhir kalau dilihat dari sisi untuk memudahkan investasi untuk masuk ke Indonesia.

Bahkan ia mengatakan kalau ini merupakan sebuah raihan luar biasa dari 20 tahun terakhir. Ia tapi mengakui kalau beberapa pasal yang ada di dalam Omnibus Law lebih kepada menguntungkan para pengusaha.

Sedangkan kalau dilihat dari sisi yang lainnya, ketika terjadi pandemi seperti saat ini para pengusaha juga memiliki beragam resiko turunan layaknya kondisi makro ekonomi juga daya saing dari para pekerja Indonesia yang dianggap masih kalah kalau dibandingkan dengan negara-negara lain.

Kini, menurut Janson pergerakan yang ada di IHSG lebih berdampak kepada eksternal . Seperti yang terjadi ketika Presiden Donald Trump yang menginstruksikan untuk lakukan perhentian perundingan terkait  Stimulus tambahan dengan partai Demokrat.

Penghentian ini akan dilakukannya sampai nanti pemilu presiden yang akan dilakukan pada tanggal 3 November. Keputusan ini membuat bursa AS, Wall Street langsung anjlok di penutupan perdagangan.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun sebanyak 1.34% menjadi sebesar 27.772, 76. Sedangkan untuk Indeks S&Pnya turun ke level 3.360 dan Nasdaq menjadi pada level 11.154.

Jadi mari kita lihat saja kedepannya apakah akan ada dampak yang bisa dilhat dari pengesahan omnibus Law ini.